Senin, 14 Juni 2021

UAS LIVING QUR'AN

                    MAKALAH 

TRADISI TADARUS AL-QUR’AN DI BULAN RAMADHAN 

Disusun Untuk memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester Mata Kuliah: Studi Living Qur’an dan Tafsir Dosen Pengampu: Syamsul Bakhri, M. S.os. 

 Disusun oleh: Nelis Saadah (3118011) 

Kelas :IAT B

 JURUSAN ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB DAN DAKWAH IAIN PEKALONGAN 2021 

PENDAHULUAN 

Latar Belakang Masalah 

Al-Qur’an merupakan kitab suci Allah swt yang terakhir diturunkan, sebagai petunjuk dan pemberi pelajaran bagi manusia sekaligus pembeda dari yang haq maupun yang bathil. Tujuan al-Qur’an sebagai petunjuk hidup bagi manusia dengan maksud agar manusia keluar dari kegelapan menuju terang benderang. Fenomena masyarakat muslim dalam memperlakukan al-Qur’an sebagai kitab suci terlihat dari beragai bentuk persepsi di dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah diaktualisasikan dalam bentuk membaca atau Tadarus al-Qur’an. 

 Tadarus al-Qur’an adalah membaca, belajar al-Qur’an secara bersama-sama. Tadarus al-Qur’an dapat dilakukan kapan dan dimana saja. Salah satu bentuk pengaktualisasian masyarakat muslim adalah tradisi membaca atau tadarus al-Qur’an di bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan merupakan bulan yang identik dengan perintah puasa selama satu bulan penuh. Bulan Ramadhan juga merupakan bulan yang penuh keberkahan. Karena bulan Ramadhan bulan diturunkannya al-Qur’an. 

Lalu, bagaimana masyarakat muslim memaknai tradisi tadarus al-Qur’an pada bulan Ramadhan ini?, dan bagaimana efek yang dirasakan oleh seorang muslim setelah melakukan tadarus al-Qur’an?. Dalam menganalisis permasalahan ini, penulis menjelaskan di dalam makalah menggunakan metode Living Qur’an, dengan pendekatan sosiologi yaitu fenomonologi dan dengan analisis deskriptif-kualitatif. 

PEMBAHASAN 

A. Definisi Tadarus Al-Qur’an Istilah Tadarus al-Qur’an tentunya sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Hampir setiap muslim mengetahui makna dari tadarus ini. Umat Islam di Indinesia pada umumnya memahami Tadarus al-Qur’an sebagai memaca al-Qur’an ersama di suatu tempat. Tadarus didalam kamus Bahasa Arab berasal dari kata دارس-تدرس yang berarti membaca, belajar, mengajar. Tadarus memiliki makna yang sama dengan mudzakarah atau muthala’ah bersama, artinya belajar bersama oleh para huffazh al-Qur’an atau diseut juga dengan sima’an, yakni saling menyimak dan mendengarkan. Sedangkan dalam kamus Bahasa Indonesia, Tadarus adalah memaca al-Qur’an secara bersama-sama (pada bulan puasa). Mulla Ali al-Qari di dalam Misykatul-Mashaih menjelaskan bahwa Tadarus merupakan kegiatan membaca sebagian orang atas sebagian lain sambil membetulkan lafal-lafalnya dan mengungkap maknanya. Kegiatan tadarus pada mulanya erasal dari tradisi setoran bacaan Rasulullah saw. dihadapan Malaikat Jibril. Seperti diketahui, Malaikat jibril turun melakukan tes bacaan al-Qur’an Rasulullah saw. selama satu tahun sekali di bulan Ramadhan. Kecuali ditahun menjelang wafatnya Rasulullah saw. Malaikat Jibril turun dua kali untuk mengetes acaan al-Qur’an Rasulullah. Pada waktu tes, Rasulullah saw. memaca dan Malaikat jibril menyimak atau terkadang Malaikat Jibril memaca dan Rasulullah yang menyimak. Ibnu Aas menceritakan mengenai hal ini, yaitu: 

اِنَّ رَسُوْ لُ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ فِيْ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ. “setiap Malam Ramadhan, Jibril menjumpai Rasulullah saw. Dia melakukan tes hafalan al-Qur’an Beliau.”  

B. Keutamaan Tadarus Al-Qur’an 

Tadarus al-Qur’an merupakan pekerjaan yang mempunyai beragai keistimewaan dan kelebihan. Seperti banyak diterangkan didalam Hadis, diantaranya yaitu:

 1. Menjadia orang yang terbaik dan manusia yang utama. Tiada manusia di atas umi ini yang leih aik daripada orang yang mau elajar dan mengajarkan Al-Qur’an. 

2. Mendapatkan kenikmatan yang luar biasa. Seseorang yang sudah merasakan kenikmatan membaca al-Qur’an, tidak pernah bosan membacanya sepanjang malam dan siang. Bagaikan kenikmatan harta kekayaan ditangan orang shaleh merupakan kenikmatan yang esar, karena dibelanjakan ke jalan yang enar dan tercapai apa yang diinginkan. 

3. Mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Allah swt maupun di sisi manusia. 

4. Seseorang yang membaca al-Qur’an dengan fasih, mengamalkannya, dan dengan tajwid yang benar, maka orang tersebut derajatnya sangat dekat kepada Allah seperti para Malaikat. Sedangkan orang yang masih belum fasih, tajwidnya belum sempurna, orang tersebut mendapatkan dua pahala, yaitu pahala memaca dan pahala kesulitan dalam membacanya. 

5. Mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Satu huruf diberi sepuluh kebaikan. Membaca satu huruf saja mendapatkan 10 kebaikan, apalagi membacanya berlembar-lembar. Sehingga sangatlah merugi apaila ada orang yang tidak mau memacanya. 

C. Bulan Ramadhan dan Keistimewaannya Ramadhan merupakam bulan kesembilan dalam kalender Hijriyah dalam islam. Latar belakang bulan ini dieri nama Bulan Ramadhan yakni karene bertepatan dengan musim panas, bulan yang identiik dengan perintah berpuasa selama satu bulan penuh. Seperti dalam firman Allah swt,. Dalam QS. al-aqarah ayat 183: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Selain itu, bulan Ramadhan juga memiliki pesan dan harapan yaitu membakar segala kesalahan dan kekhilafan. Bulan Ramadhan memilki keutamaan yang sangat besar dan sempurna, karena banyak keberkahan di bulan ini. Allah swt. Telah memberikan dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa yaitu, kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Ramadhan merupakan bulan yang awalnya rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah keesan dari api neraka. Setelah selesai melaksanakan puasa selama satu bulan penuh, manusia akan keluar dari bulan ini dengan kondisi bersih layaknya bayi yang aru lahir ke dunia. Bulan Ramadhan juga merupakan bulan yang penuh dengan keberkahan. 

Ada beberapa peristiwa penting di Bulan Ramadhan, yaiyu seagai berikut: 

1. Turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad saw yang bertepatan di Gua Hiro, yaitu Qur’an Surat Al-‘Alaq ayat 1-5. 

2. Perang Badar al-Kuro yang bertepatan pada tanggal 17 Ramadahan 2 Hijriyah. 

3. Awal mula adanya zakat fitrah, yakni pada tahun 2 hijriyah. 

4. Perang tauk tang terjadi pada tanggal 9 hijriyah. 

5. Pembebesan kota Makkah, yaitu pada tanggal 10 Ramadhan 6 hijriyah. Nabi bersama sahabat memasuki kota Makkah dengan damai, tapa ada pertumpahan darah.  

Bulan Ramadhan memilki beberapa keutamaan, yaitu sebagai berikut: 

 1. Syahrullah, yaitu Bulan Allah. Pada bulan ini, Allah swt memerintahkan hamba-Nya untuk menjalankan ibadah puasa. Puasa merupakan iadah khusus yang disandarkan kepada Allah swt. Allah yang akan memeri kita pahala setelah melaksanakan ibadah puasa di bulan ramadhan ini. 

2. Syahrul Qur’an, al-Qur’an diturunkan di bulan ramadhan. Dari sisnilah mengapa diseut dengan Syahrul Qur’an. Oleh karena itu, di ulan Ramadhan ini kita dianjurkan untuk memperanyak membaca al-Qur’an dan mentadaburi al-Qur’an. 

 3. Syahrush Shabri, bulan ramadhan merupakan ulan kesaaran. Karena di bulan ramadhan ini kita dilatih untuk mengontrol kesaaran kita. Sabar dalam hal tidak melanggar larangan-larangan ketika erpuasa. Dilatih kesabarannya untuk menjauhi maksiat, dan saar dalam menghadapi cobaan dan masalah dalam kehidupan. 

4. Syahrul Jud, adalah bulan keikhlasan. Bulan Ramadhan mengajarkan kita untuk membantu dan memberi fakir miskin, dan sanak keluarga yag membutuhkan. 

D. Pengaruh Tadarus Al-Qur’an Terhadap Si Pembaca Al-Qur’an 

Melakukan Tadarus al-Qur’an bukan hanya bertujuan untuk mendapatkan pahala dan kebaikan-kebaikan dari Allah swt.. Tetapi, dengan bertadarus bisa menjadikan kita dalam memperbaiki bacaan-bacaan al-Qur’an kita dan melatih keistiqomahan pada diri kita. Membaca atau Tadarus al-Qur’an di bulan Ramadhan juga memilki beberapa keistimemewaan, yaitu bulan Ramadhan merupakan bulan yang dikenal dengan perintah kepada kita untuk erpuasa selama 30 hari penuh dan juga bulan yang penuh berkah, semua kebaikan yang kita lakukan mendapatkan pahala yang berlimpah. Selain itu, di bulan Ramadhan merupakan bulan diturunkannya al-Qur’an. Selain itu, salah satu tokoh orientalis bernama Neal Robinson yang memilki ketertarikan untuk mengkaji al-Qur’an. Salah satunya adalah penelitian yang Robinson lakukan di Pakistan mengenai fenomena seorang muslim dalam memperlakukan al-Qur’an. Salah satunya adalah ketertarikan Robinson ketik bulan Ramadhan dimana secara rutin setiap malam al-Qur’an dilantunkan oleh umat muslim. Robinson menjelaskan, pembacaan al-Qur’an selama Ramadhan tidak hanya wahyu pertama tetapi seluruh surat atau 30 juz. Menurutnya, umat islam membaca 1/30 juz al-Qur’an setiap malamnya. Hal ini menurutnya sangat menarik, karena efek yang dihasilkan dari fenomena pemacaan al-Qur’an selama bulan Ramadhan adalah rasa gembira yang luar rasa di kalangan umat muslim setelah mereka dapat menamatkan atau mengkhatamkan al-Qur’an, khususnya ketika pengkhataman al-Qur’an dilaksanakan pada malam ke-27 Ramadhan, atau malam Lailatul Qadar.  

E. Analisis 

Dalam mengkaji mengenai Tradisi Tadarus Al-Qur’an di Bulan Ramadhan menggunakan metode Living Qur’an dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Metode Living Qur’an merupakan kajian tentang berbagai peristiwa sosial terkait dengan kehadiran dan keeradaan al-Qur’an di sebuah komunitas Muslim tertentu. Kemudian pendekatan Fenomenologi merupakan paradigma yang mempelajari pengetahuan perilaku mengenai dunia yang dihuni dan kesadaran mengenai perilaku. Dalam hal ini, pendekatan fenomenologi digunakan untuk menjawab mengenai bagaimana pandangan masyarakat mengenai makna Tadarus al-Qur’an di bulan Ramadhan dan juga hal atau efek apa yang dirasakan si pembaca atau yang melakukan Tadarus al-Qur’an. Kemudian jenis penelitian dan metodenya menggunakan kualitatif-deskriptif. Penelitian kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, aktifitas sosial, kepercayaan, dan persepsi seseorang atau masyarakat terhadap Tradisi Tadarus Al-Qur’an di Bulan Ramadhan. Kemudian metode deskripstif digunakan untuk menggambarkan beragai gejala dan fakta yang terdapat dalam kehidupan sosial secara mendalam.  

Kesimpulan 

Tadarus Al-Qur’an merupakan kegiatan membaca, belajar al-Qur’an bersama-sama. Kegiatan Tadarus Al-Qur’an ini bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. Salah satunya adalah kegiatan Tadarus al-Qur’an ini dilakukan di bulan Ramadhan. Tadarus al-Qur’an pada bulan Ramadhan ini selain memiliki tujuan untuk mendapatkan pahala dan kebaikan dari Allah swt, juga untuk mendapat keberkahan dari bulan Ramadhan dan juga bulan Ramadhan merupakan bulan diturunkannya al-Qur’an (malam lailatul Qadar). Tadarus al-Qur’an juga dapat menjadikan kita dalam memperbaiki bacaan-bacaan al-Qur’an kita dan melatih keistiqomahan pada diri kita. Selain itu, ketika kita bertadarus al-Qur’an akan membuat kita merasa senang, gembira karena telah mengkhatamkan al-Qur’an.

DAFTAR PUSTAKA 

Noverwati Aminah. 2020. skripsi “Korelasi Antara Motivasi Tadarus Al-Qur’an Dengan Kemampuan Memaca Al-Qur’an Peserta Didik Kelas V Madrasah Itidaiyah Ma’arif NU Sekampung”. Metro Lampung: IAIN Metro.

Fitrah Jaya Syafril. 2017. skripsi “Implementasi Program Pembiasaan Tafadrus Al-Qur’an Dalam Pembinaan Cinta Al-Qur’an Oleh Siswa Di SMP LTI IGM Palembang”. Palembang: UIN Raden Fatah.

 Ulfiatus Sakinah Nina. 2020. skripsi “Tradisi Tadarusan (Memaca Al-Qur’an) Di Madrasah Al-Ulfiyah Kadupandak Cianjur: Studi Living Qur’an”. Bandung: UIN Sunan Gunung Djati.

Fauziyah Dewi.2019. skripsi “Pengaruh Pemiasaan Tadarus Al-Qur’an Terhadap Terbentuknya Karakter Religius Siswa Di MAN Kendal Tahun Pelajaran 2018/2019”. Semarang: UIN Wali Songo.

 https://play.google.com/store/apps/details?id=com.quran.kemenag 

Muzanni Ahmad Muhtasorul. 2020. skripsi “Keistimewaan Asyhurul Hurum Dalam Al-Qur’an (Telaah Komparatif Tafsir Jami’ al-ayan Fi Ta’wil Ay alQur’an dan Tafsir Jami’ Li Ahkam al-Qur’an)”. Surabaya: UIN Sunan Ampel.

 Purwanto Tinggal. 2017. “Fenomena Living Qur’an Dalam Perspektif Neal Robinson, Farid Esack dan Adullah Saeed”. Jurnal Mawa’izh, Vol.1. No.7 Oktiyanto Reno. 

“Ketamaan Bulan Ramadhan”, https://www.academia.edu/37952592/KEUTAMAAN_BULAN_RAMADHAN diakses pada hari Minggu, 13 Juni 2021, pukul 20.45.

Mansyur M.dkk, editor Syamsuddin Sahiron. 2007. “Metodologi Penelitian Livig Qur’an dan Hadis”. Yogyakarta: TERAS.

Huda Miftahul. 2020. skripsi “Tradisi Khomul Qur’an (Studi Living Qur’an Pemaknaan Khotmul Qur’an di Pondok Pesantren Ittihadil Ummah Ponorogo)”. Ponorogo: IAIN Ponorogo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar